Menjaring Rakhmat Allah Swt.

Manusia diciptakan Allah dengan berbagai kelebihan dari makhluk-makhluk lainnya. Dan karena sifat kesempurnaannya dibanding makhluk Allah lainnya, maka Allah SWT menjadikannya khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Pemimpin bagi diri, keluarga, bahkan orang lain. Dan pula dengan kelebihannya, manusia memiliki keinginan atau kemauan yang keras untuk mendapatkan sesuatu. Sayangnya di balik keinginannya yang keras manusia kadang suka lupa kalau ada batasan yang tidak boleh dilewati [ dilanggar ].
Sifat merasa lebih dari lainnya adalah merupakan salah satu sifat tidak terpuji yang dimiliki manusia. Padahal sehebat apapun manusia maka dia tidak akan berdaya ketika dihadapkan pada takdir dari Sang Penciptanya. Seharusnya kelebihan yang dimiliki adalah untuk terus disyukuri dan digunakan untuk kemaslahatan diri dan orang lain.

Tidak ada yang luput dari balasan Allah

وللــه المشــرقُ والمغــربُ فأينمــا تُوَلُّوا فَثَمــّا وجــه اللــه. ان اللــه واســع عليــم.  البقره : 115
“ Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas [ Rahmat-Nya ] lagi Maha Mengetahui. “

Tidak ada perbuatan kebaikan ataupun keburukan sekecil apapun yang luput dari perhatian dan balasan Allah, karena ‘wajah’ Allah ada di mana-mana. Artinya [wajah Allah] adalah kekuasaan Allah yang meliputi seluruh alam dan tidak ada yang bisa menghindar dari-Nya. Dan tidak pula seseorang bisa menghakki atau memiliki seluruh harta yang didapatkan kecuali yang sudah menjadi bagiannya dan yang telah dibelanjakan di jalan-Nya, sesuai aturan agama [ Islam ].

Mungkin ketika masih hidup ia bisa berpoya dengan membeli apa saja yang diinginkan, tanpa memperdulikan sesama. Namun ketika kematian telah datang ia justru bisa menistakan diri dan keturunannya. Mungkin terlalu jauh jika kita memikirkan akibat atau sisi keprihatinan di balik sebuah kematian yang ‘su-ulkhatimah’. Contoh yang nyata saja ketika sakit datang, maka apa pun akan dilakukan demi kesembuhannya.

Jangan lupakan nikmat Allah yang berupa jasad kasar
Ada yang harus senantiasa diingat oleh kaum muslimin yaitu nikmat Allah yang menempel langsung pada jasad kasarnya. Insya Allah kita terbiasa bersujud syukur ketika mendapatkan rezeki, terhindar dari musibah, memperoleh sesuatu yang diidam-idamkan, dll. Namun kita juga mesti terus bersyukur karena diberi nikmat sehat jasmani : Kaki masih mampu berjalan, tangan masih kuat untuk bekerja, mata masih tajam melihat, telinga masih jelas mendengar, otak masih mampu berfikir keras, dan seterusnya…

Ada sebuah kisah yang tertulis pada Hadits Rasulullah SAW tentang seorang ‘Abid atau hamba yang hidup di gunung tertinggi di dunia dengan seluruh kebutuhan hidupnya sudah Allah penuhi dan karuniakan di sana. Seluruhnya tinggal ia nikmati. Ia hidup selama limaratus tahun hanya untuk beribadah dan kemudian meninggal dalam keadaan sujud. Namun Allah kemudian justru memasukkannya ke dalam Neraka lebih dulu, hingga pada akhirnya dipindahkan ke Surga. Kenapa hal demikian bisa terjadi ? Karena setelah ditimbang ternyata rahmat Allah yang berupa mata saja sudah lebih berat timbangannya daripada hidupnya yang penuh ibadah selama limaratus tahun.

Kisah masyhur lainnya dari kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani tentang al-Ghazali. Diceritakan bahwa Imam Ghazali tampak dalam mimpinya, maka ia ditanya “apa yang Allah lakukan kepadamu?” lalu ia menjawab “Allah membiarkanku di hadapan-Nya, kemudian Allah berkata, Kenapa Engkau dihadapkan kepada-Ku, apa yang engkau bawa? Maka aku (al-Ghazali) menyebutkan segala amal ibadahku. Tapi Allah menjawab “sesungguhnya Aku tidak menerima semua amal ibadahmu, kecuali satu amal pada suatau hari ketika kamu membiarkan seekor lalat hinggap di atas tintamu dan meminum tinta itu dari ujung penamu, serta engkau membiarkannya karena kasihan kepada lalat itu”. Kemudia Allah berkata “wahai malaikat, bawalah hambaku ini ke surga”.

Fragmen seorang ‘Abid dan Al-Ghazali itu menunjukkan kepada kita bahwa posisi rakhmat Allah itu sangat rahasia. Ia bisa terdapat pada bentangan amal kita yang tidak kita ketahui persisnya. Limaratus tahun hanya beribadah namun ternyata si Abid masuk surga bukan karena ibadahnya namun karena rakhmat Allah. Beratus-ratus kitab karya al-Ghazali, bertahun-tahun pula ibadahnya, tetapi rahmatnya malah justru terdapat di tinta pada ujung penanya. Demikian menentukannya rahmat Allah. Ia tidak dapat dikalkulasi, diprediksi dan diperinci karena rahmat itu adalah rahasia dan hak prerogatif Allah.

Meraih rakhmat Allah dengan ikhlas beribadah, tidak putus asa dan berdoa
Yang dapat dilakukan seorang hamba hanyalah terus beribadah, tidak putus asa dan terus berharap agar senantiasa mendapatkan curahan rakhmat di setiap amaliyahnya. Tidak dibenarkan seorang muslim menilai rendah dan menganggap sepele ibadah kecil serta berlaku sombong dengan ibadah besar [ wajibnya ]. Walaupun itu sekedar menghindarkan duri dari tengah jalan, membiarkan kucing yang barusaja mencuri lauk pauk, atau bahkan membiarkan nyamuk yang sudah menghisap darah kita. Contoh lain mungkin [ kami tulis mungkin karena, sekali lagi, turunnya rakhmat adalah rahasia dan hak mutlak Tuhan ] menulis kalimat Al-Quran dengan huruf Arab pada undangan. Saran kami sebaiknya itu dihindari, karena dikhawatirkan setelah dibaca undangan tersebut akan dibuang dan tercecer di jalan. Contoh lainnya adalah memajang foto perempuan dan laki-laki yang dapat mengundang syahwat di tembok, memelihara binatang yang mengandung najis, berdiri ataupun duduk dengan tangan mengapu rancang, berkacak pinggang, dll. [ kitab Nashaihul-‘ibad ] Yang pada akhirnya bisa menolak rakhmat Allah, baik yang diturunkan di dunia maupun akhirat kelak. Wallaahu a’lam bish-shawab.


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ : الزمر : 53

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. 39 : 53]

ارحمنا ياالله لان رحمتك أرجى لنا من جميع أعمالنا, واغفر لنا ياالله لان مغفرتك اوسع من ذنوبنا

“ Ya Allah kasihanilah kami, karena rahmat-Mu lebih kami harapkan dari pada semua amal kami. Dan ampunilah kami, karena pengampuanan-Mu lebih luas dari pada dosa-dosa kami. “ [ Doa meraih rakhmat Allah ]

Tentang Solichin Toip

Pengrajin dan produsen alat musik tradisional Islamis dan modern al ; aneka versi Rebana Hadrah, Diba, Syrakal, Qasidah, Marawis, Gendang, Bedug dan Mimbar mesjid, Marching Band, anekea furnitur rumah tangga, dan lain-lain. Generasi ke II pengrajin Rebana terbaik dan pertama sejak 1950-an dari Bumiayu. Apresiasi tertinggi terpilih dalam program acara Laptop Si Unyil di Trans7 pada 21 April 2010 sebagai satu-satunya pengrajin rebana berkualitas terbaik se Indonesia.
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Akhlak, azab, Islam, kisah nyata, Kisah teladan, pembalasan, peringatan Allah SWT, Renungan, Syiar Islam, zikir dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s