Memuji Selain Allah SWT Sewajarnya Saja

Salquran-surat-al-ikhlas-ayat-1-4egala puja dan puji hanya milik Allah Sang Maha Pencipta dan Penguasa alam dengan segala isinya. Hanya kepada-Nya seluruh makhluk yang diciptakan-Nya harus menyembah, meminta pertolongan serta perlindungan. Karena tidak ada perkara atau masalah yang tidak bisa diselesaikan jika ikhtiar manusia [ muslim ] kemudian dipasrahkan kepada-Nya. Allah adalah Sang Maha Pencipta, Pemilik dan Penguasa jagat raya, dengan seluruh isi kehidupan, kematian dan kehidupannya kembali, kelak. Allah tempat bertawakkal, bergantung. Allah adalah Tuhan sebagai ‘sandaran’ seluruh keluh kesah dan kepasrahan setiap muslim, setelah terlebih dahulu wajib berusaha sendiri menyelesaikannya [ ikhtiar ].

Allah adalah Esa atau Maha Tunggal, baik sifat maupun wujud-Nya [QS. Al-Ikhlas : 1-4]. Maka Allah akan murka jika makhluk-Nya berani menyekutukan-Nya dengan Tuhan lain selain-Nya. Baik Tuhan dunia yang berupa kebendaan atau keduniaan seperti tahta, harta dan lain sebagainya, maupun Tuhan sesembahan.

Kewajiban kita sebagai makhluk yang beriman kepada Allah adalah mematuhi semua perintah-Nya sekaligus menjauhi larangan-Nya [ takwa ], tanpa perlu memikirkan seperti apa Dzat-Nya. Karena sebagai makhluk kita tidak akan mampu memaknai-Nya sedikit pun !

Pujian Yang Dilarang Allah
Oleh karena itu hendaknya memuji sesuatu atau orang lain juga dengan sekedarnya saja. Sehingga ‘campur tangan’ atau Kuasa Allah pada orang tersebut tidak terlupakan. Dan bencilah orang lain juga sewajarnya saja serta harus dengan sebab syariat, yang mana kita memang perlu membencinya.

Caranya memang sulit, tapi itu merupakan kewajiban seorang hamba pada Sang Khalik serta kewajibannya pada sesama [ Khablum min-Allah wahablum mina-nnas ]. Setidaknya umat Islam bisa bersama-sama saling bahu-membahu, ingat-mengingatkan, dalam membangun hati yang istiqamah dan senantiasa memandang keduniaan orang lain dalam bentuk apapun dengan biasa-biasa saja. Tidak mudah gimir [ iri hati ] dan berburuk sangka pada tetangga serta teman. Namun melihat semua itu sebagai Takdir Allah yang tengah dikaruniakan pada orang tersebut.

Oleh karena itu Islam mengatur peri-kehidupan pemeluknya agar senantiasa tetap memperhatikan rambu-rambu atau batas pergaulan, posisi, serta peran masing-masing. Yang kesemuanya tetap bermuara pada kondisi dan situasi yang menuju pada perbaikan dan kebaikan. Tanggap dan cegah orang lain berbuat maksiat dengan tiga cara sesuai syariat Islam [dengan lisan, kekuatan atau diam], tenggang rasa pada nasib sesama, asah, asih dan asuh, hormat menghormati pada urusan masing-masing, menjaga dan memelihara rahasia atau aib sesama, simpati atas kesulitan tetangga, doa-mendoakan, berlomba dalam hal kebaikan, dan lain sebagainya. Hingga pada akhirnya kita berharap akan berbondong-bondong di alam mahsyar kelak sebagai ummatan waahidatan. Sebagai umat yang satu di bawah panji-panji pemimpin kita, Nabiyyuna Muhammad SAW.

Wallaahu a’lam bish-shawab.

Tentang Solichin Toip

Pengrajin dan produsen alat musik tradisional Islamis dan modern al ; aneka versi Rebana Hadrah, Diba, Syrakal, Qasidah, Marawis, Gendang, Bedug dan Mimbar mesjid, Marching Band, anekea furnitur rumah tangga, dan lain-lain. Generasi ke II pengrajin Rebana terbaik dan pertama sejak 1950-an dari Bumiayu. Apresiasi tertinggi terpilih dalam program acara Laptop Si Unyil di Trans7 pada 21 April 2010 sebagai satu-satunya pengrajin rebana berkualitas terbaik se Indonesia.
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Akhlak, Islam, peringatan Allah SWT, Renungan, Syiar Islam, zikir dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s