Jurus Barakah Kyai Bag. VI

Dilema Pengrajin Baru, Pemodal dan Pembeli Rebana

Sudah 50-an lebih pengrajin alat musik di desa Kaliwadas, kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Masing-masing memiliki produk, pasar, tingkat harga, kualitas dan kuantitas berbeda-beda. Di antara mereka separuhnya adalah (hanya) pemodal atau pemasar. Sedangkan sebagian yang lain adalah para pengrajin asli. Di antara pengrajin asli kebanyakan adalah eks karyawan yang mencoba mandiri, dengan membuka usaha sendiri.  Karena belum mempunyai pasar sendiri, biasanya mereka akan menjajakan produknya secara langsung keluar kota dengan menggunakan sepeda motor. Atau paling tidak mereka akan bekerja sama dengan para pemodal yang mayoritas membuka show room di sepanjang jalan sentra industri Kaliwadas.
    Ini yang memprihatinkan, karena mereka akan tertekan dengan harga yang sangat rendah, sehingga kehidupan ekonominya pun cenderung tidak ada kenaikan. Sementara si pemodal akan terus berkembang dan menjadi kaya, karena di sisi lain dia juga akan menjerat calon pembelinya dengan harga yang mahal !
    Siapa yang dirugikan ? Pengrajin, pemodal atau pembeli ? Tentu saja pembeli. Karena dia akan mendapatkan barang dengan kualitas yang amat rendah tapi membayarnya dengan harga mahal.
    Para pecinta rebana, banyak pengrajin baru yang pandai dan cerdik. Dia akan mensiasati kerja samanya dengan pemodal dengan memproduksi barang yang benar-benar di bawah standar ( koden ).  Baik kualitas kekeringan kayu, kulit, cat, pita, paku dan lain-lain. Bahkan ada yang bermain ‘kucing-kucingan’ dengan menjual barangnya ke orang lain untuk mendapatkan harga yang lebih. Meskipun, sebetulnya, modalnya berasal dari pihak pertama (pemodal). Mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena mereka tahu persis pemodal mengambil untung terlalu besar untuk barang yang mereka hasilkan. Sementara pengrajin ingin ada peningkatan kesejahteraan ( ekonomi ). 

Pembeli Pilihan akan Beralih ke Produsen Terbaik

“ Kami baru membeli rebana Hadrah di toko X pinggir jalan sana beberapa bulan yang lalu, tapi sekarang sudah seperti ini, “ keluh seorang tamu dari Purbalingga, pelanggan baru kami. 
   Ia datang bersama seorang agen kami dengan maksud menukar rebana Hadrah Simtudh-Durar miliknya yang masih baru tapi sudah rusak. Kulitnya masih utuh, tapi suaranya sudah seperti bass. Tempat pemasangan kulitnya pun bergelombang. Sehingga dipastikan ketika masih baru pun suaranya tidak jernih alias fals.
 “ Padahal harganya tidak berbeda jauh dengan produk Mas Lihin, “ sambungnya. (Mas Lihin : Solichin Toip, Red.)
    Akhirnya, alhamdulillah dia menjadi pelanggan baru kami dengan menukar satu set rebana Hadrah Simtudh-Durar buatan orang lain itu dengan produk SuaraTunggal Bahana merek Solichin Toip. Juga membeli satu set lagi dengan type yang sama. Masing-masing untuk sebuah pesantren dan sekolah tempat dia mengabdi, dengan nomor produksi 941 dan 942.

Tentang Solichin Toip

Pengrajin dan produsen alat musik tradisional Islamis dan modern al ; aneka versi Rebana Hadrah, Diba, Syrakal, Qasidah, Marawis, Gendang, Bedug dan Mimbar mesjid, Marching Band, anekea furnitur rumah tangga, dan lain-lain. Generasi ke II pengrajin Rebana terbaik dan pertama sejak 1950-an dari Bumiayu. Apresiasi tertinggi terpilih dalam program acara Laptop Si Unyil di Trans7 pada 21 April 2010 sebagai satu-satunya pengrajin rebana berkualitas terbaik se Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, kisah nyata, Kisah sukses, Merek palsu dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s