Sejarah Qurban

Ilustrasi panitia qurbanIdzul-adha lazim disebut sebagai hari raya kurban. Ia dihitung mulai terbitnya fajar pada tanggal 10, 11, 12, hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Artinya pada empat hari itu kita diperkenankan / disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban, bertakbir, tahmid dan tahlil dengan kalimat yang khusus ;

اللــه اكبــر……اللــه اكبـــر……اللـــه اكبــر, لا الــه الا اللــه واللــه اكبــر….اللــه اكبــر وللــه الحـــمد

( Allah Maha Besar…..Allah Maha Besar….. Allah Maha Besar, Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah dan Allah Maha Besar….. Allah Maha Besar dan segala pujian hanya kepada Allah ).

Sejarah masa lalu sisi kehidupan Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam ( As ) dan keluarganya menjadi tonggak sejarah diperingatinya hari raya kurban. Tidak sedikit perikehidupan beliau dan keluarganya yang menjadi ‘nafak tilas’ jamaah haji dari seluruh penjuru dunia. Salah satu peristiwa penting yang dapat kita ambil hikmahnya adalah kisah penyembelihan terhadap anak beliau yang bernama Ismail ‘Alaihissalam.

Berkorban dengan seekor domba atau hewan-hewan lainnya yang disunnahkan ( Sapi, Kerbau atau Unta ) menjadi salah satu barometer derajat seorang muslim dihadapan  Allah SWT. Juga menjadi realisasi jiwa sosial mereka kepada sesama muslim lainnya, yang tidak mampu. Dan, karena berkurban juga disunnahkan bagi setiap muslim yang mampu, maka ibadah itu juga menjadi bentuk cinta seorang umat ( Islam ) kepada pemimpinnya ( Rasulallah SAW ).

Ibrahim As, disamping sebagai seorang Nabi dan Rasul dengan gelar Khalilullah karena ketabahan, kesabaran, jiwa sosial dan ketaatannya kepada Allah SWT, beliau juga seorang kepala rumah tangga yang sangat jujur, sabar dan bertanggung jawab. Beliau sangat mencintai istri dan anaknya. Tapi cintanya kepada mereka terkalahkan oleh cintanya kepada Allah SWT. Terbukti ketika perintah penyembelihan anaknya, karena ‘kelalaian’ beliau ( bernazar ) ketika dipuji para Malaikat tentang kedermawanannya, beliau langsung melaksanakannya, meski Allah kemudian menggantinya dengan seekor domba dari surga.

Kemudian figur Siti Hajar Radiyallahu ‘anhu ( Ra ) istri Nabi Ibrahim As dan ibunda Nabi Ismail As. Beliau juga tidak kalah sabar dari suami tercintanya. Di tengah padang pasir yang tandus dan gersang sebagai cikal bakal kota Mekkah, beliau ditinggalkan bersama bayi yang baru dilahirkannya oleh sang suami karena memenuhi panggilan Allah SWT untuk menerima wahyu. Siapa yang tega melihat bayi baru lahir menangis meminta minuman sementara tidak ada minuman apapun untuk diberikannya. Namun Siti Hajar Ra bukanlah figur ibu yang mudah mengeluh dan putus asa. Beliau segera berlari-lari kecil begitu mendengar gemericik suara air di kejauhan. kembali lagi beliau bergegas-gegas mencari sumber air itu ke arah semula. Bolak-balik beliau mencarinya hingga tujuh kali ke arah yang sama tapi hanya pemandangan kerontanglah yang disaksikannya.

Allah Maha Kuasa, suara gemericik air itu ternyata datang dari bawah goresan ibu jari bayi Ismail ! Subhanallah ! Maha Suci Allah ! Nafak-tilas Siti Hajar Ra, mencari sumber air itu, kemudian terkenal sebagai salah satu ritual ibadah haji dengan nama Sa’i ( lari-lari kecil/ bergegas-gegas ).

Yang terakhir adalah sosok Ismail As. Ia tumbuh menjadi anak yang yang bertanggung jawab, berakhlakul-karimah, berbakti kepada orang tua dan taat beribadah kepada Allah SWT. Ketika masih usia anak-anak ia menyediakan dirinya untuk disembelih ayahnya karena perintah Allah. Karena kesalihannya Allah SWT kemudian mengangkatnya sebagai seorang Nabi dan Rasul sebagaimana ayahandanya. Bahkan dari titisan beliaulah kemudian nabi dan rasul terakhir diturunkan, yakni Nabi Muhammad SAW.

Dari sedikit kisah ketiga tokoh tersebut hendaknya seorang muslim bisa mengambil hikmah dan tauladan. Seorang muslim yang baik adalah yang berakhlak mulia, rela dan ikhlas berkorban demi kemaslahatan umat Islam lainnya bahkan berkorban untuk ‘kedaulatan’ negaranya. Amin…

ذلـــك ومــن يعظــم شعــائــر اللــه فانهــامــن تقــوى القلــوب

Demikianlah ( perintah Allah ), dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. ” ( QS. al-Hajj : 32 )
Wallaahu a’lam bish-shawaab.
Diolah dari berbagai sumber oleh  Solichin Toip
Produsen alat musik tradisional Islamis dan modern Indonesia

Tentang Solichin Toip

Pengrajin dan produsen alat musik tradisional Islamis dan modern al ; aneka versi Rebana Hadrah, Diba, Syrakal, Qasidah, Marawis, Gendang, Bedug dan Mimbar mesjid, Marching Band, anekea furnitur rumah tangga, dan lain-lain. Generasi ke II pengrajin Rebana terbaik dan pertama sejak 1950-an dari Bumiayu. Apresiasi tertinggi terpilih dalam program acara Laptop Si Unyil di Trans7 pada 21 April 2010 sebagai satu-satunya pengrajin rebana berkualitas terbaik se Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di 'Idzul Adha, Hari Raya Islam, Kisah Nabi dan Rasul, Lebaran, Syiar Islam dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s